AIK 8

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan Puji Syukur Kehadirat ALLAH SWT. Atas rahmat dan petunjuk Nya, Hidayah dan Inayah Nya . Sehingga makalah yang berjudul “Penelaahan pustaka atau studi pustaka ”  ini dapat di susun dan di selesaikan dengan baik sebagaimana mestinya . Makalah ini kami buat sebagai bahan diskusi kelompok kami pada mata kuliah “Metodologi Penelitian”

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan makalah ini telah banyak sumbangsih yang diterima baik berupa tenaga, motivasi, pikiran, dan materi dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membantu kami dalam proses penyelesaian makalah ini.

Tiada yang sempurna di muka bumi ini, kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, apa yang kami sajikan dalam makalah ini sesungguhnya masih sangat jauh dari kesempurnaan. Saran dan kritik sifatnya membangun senantiasa kami nantikan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

 

 

 

Makassar, 16 Desember 2011

 

PENULIS

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar………………………………………………………………….. i

Daftar Isi…………………………………………………………………………ii

BAB I: PENDAHULUAN………………………………………………………1

  1. Latar Belakang……………………………………………………….1
  2. Rumusan Masalah……………………………………………………2
  3. Tujuan………………………………………………………………..2
  4. Manfaat………………………………………………………………2

BAB II : PENELAAHAN PUSTAKA…………………………………………..4

  1. Peranan Studi Kepustakaan…………………………………………..5
  2. Macam-Macam Sumber Informasi……………………………………7
  3. Isi Studi Kepustakaan…………………………………………………11
  4. Jumlah Reverensi yang Diperlukan…………………………………..11
  5. Mengorganisasikan Substansi Kajian Pustaka……………………….12

BAB III: PENUTUP……………………………………………………………..16

Kesimpulan……………………………………………………………….16

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………17

BAB 1

PENDAHULUAN

  1. 1.      Latar Belakang

Pada hakIkatnya manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna di muka bumi ini dibandingkan dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya, hal ini diperkuat dengan dibekalinya manusia dengan akal, fikiran, nafsu, serta berbagai macam potensi-potensi lainnya, bahkan tak jarang manusia dengan potensi yang dimilikinya menjadikannya mulia karena dapat bermanfaat untuk sesama manusia. Jika kekuatan intelektual dipergunakannya untuk mengembara di dunia ini, maka manusia akan mempunyai kompetensi untuk memikirkan dan menuntaskan hal-hal yang terjadi disekitarnya, baik berupa masalah, konflik, serta kesenjangan-kesenjangan lainnya.

Dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, filsafat, manajemen, bisnis, dan dalam berbagai bidang-bidang lainnya, masalah-masalah yang hadir, menjadikan mereka para pelaku dalam bidang pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, filsafat, manajemen, bisnis, dan sebagainya ingin mencarikan solusinya agar kelak apa yang mereka harapkan dapat tercapai, salah satu solusi yang dilakukannya yakni melalui penelitian (research).

Studi pustaka merupakan kegiatan yang diwajibabkan dalam penelitian, khususnya penelitian akademik yang tujuan utamanya adalah mengembangkan aspek teoritis maupun aspek manfaat praktis. Hal tersebut wajib sifatnya karena didasarkan pada realitas bahwa penelitian kuantitatif menggunakan metode alamiah yang didalamnya mengandung unsure kombinasi antara dasar berfikir deduktif dan indukti. Cara berfikir deduktif adalah suatu bentuk pendekatan pemikiran yang mengutamakan langkah awal dari pengetahuan umum yang telah diverifikasikan yang kemudian akan memperoleh bentuk kesimpulan yang sifatnya lebih spesifik. Sedangkan cara berfikir induktif  meruoakan pola pendekatan awal yang berasal dari hal yang sifatnya spesifik dan realitas sebagai langkah awal, kemudian menuju pola cakupan yang lebih umum atau luas untuk kemudian untuk mencapai kesimpulan.

Studi kepustakaan dilakukan oleh setiap penelitian dengan tujuan yang umum yaitu mencari dasar pijakan atau pondasi untuk memperoleh dan membangun landasan teori, kerangka berfikir, dan menentukan dugaan sementar atau sering pula diisebut sebagai hipotesis penelitian, sehingga para peneliti dapat mengerti, melokasikan, mengorganisasikan, dan kemudian menggunakan variasi pustaka dalam bidangnya. Dengan melakukan studi pustaka, para peneliti mempunyai pedalaman yang lebih luas dan mendalam terhadap masalah yang hendak di teliti.

Mengenai dimana tempat melakukan studi kepustakaan, banyak ahli peneliti menganjurkan perpustakaan adalah yang paling ideal. Karena diperpustakaan seorang peneliti akan dengan mudah mengakses bermacam-macam sumber yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi sorang peneliti untuk mengetahui sistematika pencarian sumber baik manual maupun dengan menggunakan computer dalam perpustakaan tersebut agar dalam mencari sumber-sumber yang diinginkan dapat dilakukan secara mudah dan cepat.

Tempat lain juga yang baik melakukan studi kepustakaan adalah bertanya secara interaktif dengan narasumber langsung. Dengan wawancara bebas atau dipandu dengan petunjuk wawancara.

Mengingat arti penting dari masalah tersebut, maka alangkah baiknya apabila pengetahuan mengenai penelaahan pustaka atau studi pustaka , serta macam-macam sumber informasi dapat dipahami secara lebih mendalam. Dalam makalah kami yang berjudul “Penelaahan Pustaka atau Studi Pustaka ”.

  1. 2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah adalah:

2.1  Jelaskan peranan-peranan dalam studi kepustakaan,

2.2  Jelaskan macam-macam sumber informasi dalam studi kepustakaan,

  1. 3.      Tujuan

3.1  Mengetahui peranan-peranan dalam studi kepustakaan,

3.2  Mengetahui macam-macam sumber informasi dalam studi kepustakaan.

  1. 4.      Manfaat

4.1   Sebagai salah satu sumber informasi dan bahan masukan bagi pembaca

4.2   Diharapkan dapat memperkaya hasanah ilmu pengetahuan dan menjadi bahan bacaan bagi kalangan cendikiawan pendidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

 

Setelah masalah dirumuskan maka langkah selanjutnya mencari teori-teori, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi yang dapat dijadikan landasan teoritis bagi penelitiyang akan dilakukan itu. Landasan ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh, dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (tial and error) untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai hal yang disebut diatas itu orang harus melakukan penelaahan pustaka. Memang, pada umumnya lebih dari 50% kegiatan dalam seluru proses penelitian itu adalah membaca. Karena itu sumber bacan merupakan bagian penunjang penelitian yang esensial.

Secara garis besar, sumber bacaan itu dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu: (1) sumber acuan umum, (2) sumber acuan khusus. Teori-teori, konsep-konsep pada umumnya dapat diketemukan dalam sumber acuan umum, yaitu kepustakan yang berwujud buku-buku teks, ensiklopedia, monograp dan sejenisnya. Generalisai-generalisasi dapat ditarik dari laporan hasil-hasil penelitian terdahulu itu pada umumnya dapat diketemukan dalam sumber acuan khusus. Yaitu keperpustakaan yang berwujud jurnal, bulletin penelitian tesis, disertasi dan lain-lain. Sumber bacaan yang memuat laporan hasil penelitian dan pada itu perlu dingat bahwa dalam mencari sumber bacaan itu orang perlu pilih-pilih (selektif) artinya tidak semua diketemukan lalu ditelaah. Dua criteria yang bias digunakan untuk memilih sumber bacaan itu ialah (a) prinsip kemutahiran (b) prinsip relevansi (relevance).

Kecuali untuk penelitian hitoris perlu dihindarkan penggunaan-penggunaan sumber bacaan yang sudah “lama” mungkin memuat teori-teori atau konsep-konsep yang sudah tidak berlaku lagi karena kebenarannya telah dibantah oleh teori yang lebih baru atau hasil penelitian yang lebih kemudian, disamping sumber itu harus mutahir juga harus relevan bagi masalah yang digarap, seleksi berdasarkan kriteriarelevansi ini terutama jika pada sumber acuan khusus. Jadi, hendaklah dipilih sumber-sumber yang berkaitan langsung dengan masalah yang sedang diteliti.

Dari teori-teori atau konsep-konsep umumnya dilakukan pemerincian atau analisis melalui penelaran deduktif, sedangkan dari hasil-hasil penelitian dilakukan pemandu atau sintesis dan generalisasi melalui penalaran induktif. Proses deduksi dan induksi itu dilakukan secara interaktif, dan dari deduksi dan induksi yang berulang-ulang itu diharapkan dapatdirumuskan jawaban terhadap masalah yang telah dirumuskan, paling mungkin dan paling tinggi taraf kebenarannya. Jawaban inilah yang akan dijadikan hipotesis penelitian.

Seperti telah disebutkan dimuka, sebagian besar kegiatan dalam keseluruhan proses penelitian adalah membaca, dan membaca itu hampir seluruhnya terjadi pada langkah penelaahan kepustakaan ini, orang harus membaca-membaca, dan menelaah yang sudah dibaca itu setuntas mungkin agar dia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dan dikembangkan.

Penyusunan landasan teoritis tidak akan produktif sebelum bahannya  cukup banyak. Karena tu, perlu lebih dibaca banyak-banyak sumber-sumber bacaan, baru kemudian ditelaah, dibanding-bandingkan, lalu diambil kesimpulan-kesimpulan teoritis. Supaya hasil bacaan itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, perlulah hal tersebut direkam (dicatat) dengan cara mudah pemanfaatannya. Info yang dicatat tidak ada aturan umumnya sementara orang yang menganggap informasi minimal, yaitu informasi yang berisi hal-hal seperti yang tertulis dalam catalog diperpustakaan telah cukup. Sementara orang lain menganggap bahwa catatan itu perlu dimuat inti sari atau garis besar isii bacaan. Untuk Indonesia kiranya pendapat itulah yang lebih sesuai karena pada umumnya sumber bacaan sangat terbatas, sehingga ada kemungkinan sumber yang pernah dibaca tidak lagi tersedia diperpustakaan sewaktu diperlukan kembali.

 

  1. A.              PERANAN STUDI KEPUSTAKAAN

Studi kepustakaan mempunyai beberapa peranan (Ary dkk, 1983:56), seperti :

  1. Peneliti akan mengetahui batas-batas cakupan dari permasalah.
  2. Dengan mengetahui teori yang berkaitan dengan permasalahan, peneliti dapat menempatkan pertanyaan secara perspektif.
  3. Dengan studi literature, peneliti dapat membatasi pertanyaan yang diajukan dan menentukan konsep studi yang berkaitan erat dengan permasalahan.
  4. Dengan studi literature, peneliti dapat mengetahui dan menilai hasil-hasil penelitian yang sejenis yang mungkin kontradiktif antara satu penelitian dengan penelitian lainnya.
  5. Dengan melalui studi literature, peneliti dapat menentukan pilihan metode penelitian yang tepat untuk memecahkan permasalahan.
  6. Dengan studi literature dapat dicegah atau dikurangi reflikasi yang kurang bermanfaat dengan penelitian yang sudah dilakukan peneliti lainnya.
  7. Dengan studi literature, para peneliti dapat lebih yakin dalam menginterprestasikan hasil penelitian yang hendak dilakukan

Melakukan studi literature ini dilakukan oleh peneliti antara setelah mereka menentukan topic penelitian dan ditetapkannya rumusan permasalahan, sebelum mereka terjun kelapangan untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Dalam penelitian pendidikan maupun penelitian social mencari masalah penelitian adalah pekerjaan yang paling banyak memerlukan waktu, tenaga dan biaya.

Macam-macam sumber literature tersebut diantaranya adalah:

  1. Jurnal Penelitian
  2. Laporan hasil,
  3. Majalah ilmiah,
  4. Surat kabar,
  5. Buku yang relevan,
  6. Hasil-hasil seminar,
  7. Artikel ilmiah yang belum dipublikasikan,
  8. Narasumber,
  9. Surat-surat keputusan,
  10. Dan sebagainya yang hendak diuraikan dalam bab ini.

Kegiatan studi pustakaan pada prinsipnya adalah sangat positif baik bagi peneliti maupun bagi orang lain yang tertarik terhadap penelitian. Jika kegiatan ini dilaksanakan secara teliti dan intensif dengan logika dan cara yang benar, maka peneliti akan dapat menambah dimensi baru dalam kerangkah berfikir.

Mengenai dimana tempat melakukan studi kepustakaan, banyak ahli peneliti menganjurkan perpustakaan adalah yang paling ideal. Karena diperpustakaan seorang peneliti akan dengan mudah mengakses bermacam-macam sumber yang relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi sorang peneliti untuk mengetahui sistematika pencarian sumber baik manual maupun dengan menggunakan computer dalam perpustakaan tersebut agar dalam mencari sumber-sumber yang diinginkan dapat dilakukan secara mudah dan cepat.

Tempat lain juga yang baik melakukan studi kepustakaan adalah bertanya secara interaktif dengan narasumber langsung. Dengan wawancara bebas atau dipandu dengan petunjuk wawancara.

 

  1. B.              MACAM- MACAM SUMBER INFORMASI

            Ada beberapa macam sumber informasi yang dapat digunakan oleh para peneliti sebagai bahan studi kepustakaan. Macam-macam sumber tersebut adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Jurnal Pennelitian

Sumber utama dan mempunyai nilai sangat penting dibandingkan dengan sumber-sumber informasi lainnya ialah jurnal penelitian. Banyak ragamnya tentang jurnal penelitian sebanyak bidang pengetahuan yang ada dan digeluti oleh para peneliti. Seperti, jurnal pendidikan dan cakrawala pendidikan diterbitkan oleh lembaga peneliti dan lembaga pengapdian masayarakat UNY, jurnal pendidikan teknologi dan kejuruan oleh fakultas teknik UNY, jurnal ilmu pendidikan dengan penerbit dengan UNM (Malang), dan masih banyak lagi. Jurnal penelitian biasanya lebih berorientasi pada nilai akademik yang sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan

  1. 2.      Laporan hasil penelitian

Tidak semua hasil penelitian mempunyai kesempatan dapat dipublikasikan dalam jurnal. Mereka terserak dalam rak perpustakaan atau dimasing-masing deson pembimbing. Para peneliti mengakses dengan meminta isin dengan dosen yang bersangkutan. Hasil penelitian tersebut mempunyai bobot hampir sama dengan yang ada dalam jurnal. Hasil penelitian yang ada dan substansi dalam hasil penelitian dapat diambil sebagai acuan kepustakaan. Perbedaannya adalah laporan hasil penelitian tersebut belum diterbitkan. Acuan yang berasal dari jurnal maupun hasil dari penelitian, kedua-duanya dapat dugunakan untuk menyusun struktur studi literature dan kerangka teoritis.

  1. 3.       Abstrak

Tidak lain adalah ringkasan tentang laporan hasil penelitian. Sudah menjadi kesepakatan internasional bahwa abstrak perlu ada dalam setiap laporan hasil penelitian, baik yang dipublikasikan maupun yang belum dipublikasikan. Bahkan untuk keperluan referensi perguruan tinggi Universitas Negri Yogyakarta, mengharuskan pembuatan abstrak dalam minimal dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Abstrak penelitian pada umumnya disusun secara narasi dengan menonjolkan tiga aspek penelitian yaitu tujuan pennelitian, metodologi penelitian, dan hasil dari penelitian. Abstrak dibuat dengan bahasa narasi terbatas antara 75 kata sampai 300 kata tergantung kebijakan setiap unuversitas yang berkepentingan. Abstrak penelitian dicantumkan dalam awal laporan mempunyai tujuan agar para pembaca dan khususnya parapeneliti dapat mengambil manfaat dari hasil penelitian yang dilaporkan dalam waktu yang relatif singkat.

Pada perpustakaan yang besar, abstrak diadmistrasikan secara intensip agar dapat digunakan para peneliti maupun pembacayang tertarik mencari informasi hasil penelitian. Karena bentuk abstrak yang ringkas, peneliti akan dapat secara cepat mengambil keputusan apakah informasi yang diperlukan, ada atau tidak. Jika seorang peneliti merasa ada informasi yang relevan, maka dapat membaca pada laporan penelitian yang sebenarnya.

  1. 4.      Narasumber

Dalam mencari informasi, narasumber merupakan  sumber informasi yang hidup. Karena mereka pada umumnya adalah manusia yang mempunyai criteria tertentu dan mempunyai pengaruh yang positip dalam bidang ilmu tertentu. Yang termasuk narasumber diantaranya adalah:

  1. Para professional, yaitu orang yang mempunyai profesi atau terlibat secara langsungdengan kegiatan yang menjadi interes peneliti. Mereka ini mungkin para pekerja, pegawai, guru, maupun pelaku yang mempunyai posisi baris depan dalam bidang tertentu.
  2. Para ahli, yaituorang-orang yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu, seperti para dosen perguruan tinggi, para peneliti, menajer perusahaan, supervisior, dan sebagainya. Mereka mempunyai wewenang dalam memberikan data atau informasi yang berkaitan dengan permasalahan yang hendak diteliti oleh para peneliti.
  3. 5.        Buku

Sumber pustaka yang ilmiah adalah buku yang secara resmi telah dipublikasikan atau telah menjadi pengangan dalam mempelajari suatu bidang ilmu. Buku ini sangat penting karena sebagian bidang ilmu yang erat kaitannya dengan penelitian dan sebagian besar ada dalam bentuk buku yang tulis oleh seorang pengarang ahli. Dalam kaitannya dengan buku sebagai sumber pustaka, para peneliti hendaknya mengacu pada wawasan yang lebih luas dalam hal penggunaan bahasa yang mencakup bahasa intrnasional termasuk bahasa Indonesia, bahasa inggris, jerman, jepang, dan cina. Menguasai bahasa-bahasa internasional akan dapat menambah wawasan bagi para peneliti.

  1. 6.      Surat kabar atau majalah

Media cetak ini adalah merupakan sumber pustakayang cukup baik dan mudah diperoleh di masyarakat. Mengingat bahwa informasi dari surat kabar atau majala merupakan informasi yang sifatnya popular, para peneliti diajukan untuk lebih dahulu mengevaluasi isi yang hendak diambil. Cara yang paling sederhana dan tetap efektif untuk diterepkan dalam mengevaluasi sumber informasi adalah dengan menanyakan sebagai berikut ini:

  1. Apakah (what) isi dari surat kabar atau majala relevan dengan permasalahan yang hendak dipecahkan dalam penelitian?
  2. Siapakah (who) penulis atau narasumber yang telah menuliskan pokok bahasan mempunyai criteria, sebagai professional, akademisi, atau sumber utama dalam suatu bidang tertentu?
  3. Bagaimanah (how) penulis mengutarakan pokok bahasa dalam surat kabar tersebutmengacu? Mereka mengacu dengan objektivitas keilmuan dan subjektivitas yang diutamakan.
  4. Kapan (when) karya tulis tersebut dicetak atau diterbitkan? Untuk masalah politik, pendidikkan, dan ekonomi, waktu lima tahun mempunyai kemungkinan untuk berubah agar tetap relevan dengan permasalahan yang ada. Untuk bidang matematika, ilmu pengetahuan alam dan teknologi kecuali teknologi informasi, masal lima tahun mungkin masih mempunyai relevansi dengan permasalahan yang ada.
  5. Mengapa (why) penulis menguraikan pendapatnya dalam surat kabar atau majalah? Adakah mereka mempunyai kepentingan ekonomis, politis, atau telah ilmiah murni dalam acuan profesionaldan akademik.
  6. 7.      Internet

Kemajuan teknologi membawa dampak yang sangat signifikan dibidang informasi, dunia seolah menjadi semakin kecil, batas antarnegara dapat dilampaui dengan tidak melakukan intervensi. Dengan kemajuan teknologi informasi, kegiatan manusia semakin mengglobal, transaksi perdagangan dapat dilakukan dengan jaringan komunikasi, informasi mengalir dengan cepat sekali. Apa yang terjadi di belahan dunia yang satu dapat diketahui oleh dunia lain dengan teknologi informasi.

Salah satu sumber informasi yang seolah tidak terbatas dapat diperoleh para peneliti melalui internet. Untuk menyesuaikan dan agar dapat mengambil manfaat yang maksimal, para peneliti hendaknya dapat mencari informasi yang terkait dengan permasalahan melalui internet. Para peneliti dapat membuka sendiri program internet  yang dihubungkan dengan computer milik sendiri dirumah. Mereka dapat menghubungkan dan membuka jaringan internet tersebut melalui Telkom.

Bagi para peneliti dan mahasiswa yang tidak mempunyai computer dirumahnya mereka dapat mengakses internet dan mencari informasi yang ada dengan pergi kewarnet terdekat dan membuka e-mail disan dan menggunakan secara bebas dan teratur dengan cara menyewa setiap jam. Besarnya ongkos sewa biasanya bervariasi tergantung dari warnet tersebut dakam mematok Harga yang telah ditentukan.

 

  1. C.              ISI STUDI KEPUSTAKAAN

Isi studi kepustakaan dapat berbentuk kajian teoritis yang pembahasannya difokuskan pada informasi sekitar permasalahan penelitian yang hendak dipecahkan melalui penelitian. Misalnya, jika seorang peneliti hendak mengungkapkan tentang pengaruh prestasi belajar dilihat dari factor-faktor: hubungan anak dengan orang tua, pekerjaan orang tua, dan status orang tua, maka peneliti dapat melakukan studi kepustakaan yang berhubungan dengan: teori sosiologi dan psikologi pendidikan anak serta hubungan social sekitar kegiatan anak dalam keluarga, peranan orang tua dan jenis pekerjaan.

Materi dapat diambil dengan sekuensi yang sederhana menuju yang konfleks atau yang langsung berkaitan dengan masalah yang sedang menggejala saat sekarang. Kata-kata kunci seperti variable, rangkaian teoritis dari setiap variable, hasil penelitian yang dapat mendukung setiap variabel dan rangkaiannya. Pendapat pakar atau narasumber yang berkompetensi dalam bidangnya dan usulan peneliti dalam usaha membangun kerangka teoritis dan mencapai hipotesis penelitian atau pertanyaan penelitian (research questions)

 

  1. D.             JUMLAH REVERENSI YANG DIPERLUKAN

Tentang berapa jumlah acuan dalam kajian pustaka kadang ditanyakan oleh para peneliti muda atau para mahasiswa yang baru pertama kali mempunyai tugas menyusun studi literature dari sumber-sumber pustaka yang ada menghubungkan dengan permasalahan penelitian. Tidak ada batasan pasti berapa jumlah buku yang harus digunakan sebagai acuan, tetapi ada petunjuk yang member arah bahwa semakin banyak buku dan sumber-sumber informasi mendukung kegiatan eksplorasi kajian pustaka, semakin baik dan menguntungkan bagi si peneliti.

Jika ternyata jumlah referensi yang ada sangat terbatas, peneliti dianjurkan untuk mencari sumber yang berhubungan erat misalnya tentang sejara atau asal-usul tentang permasalahan yang hendak dipecahkan. Disamping itu peneliti juga diwajibkan melakukan eksplorasi lapangan, dengan menggunakan metode observasi dan wawancara kepada narasumber.

Atau kelengkapan yang perlu ada dalam eksplorasi pustaka adalah kemampuan menulis dan merangkai ide yang hendak di tuangkan dalam kajian pustaka dengan inti permasalahan dan sumber-sumber yang betul-betul relevan. Pekerjaan menulis kajian pustaka itu dirasakan sangat sulit bagi peneliti atau mahasiswa yang jarang menulis karya ilmiah. Akibatnyam ada beberapa dari mereka yang akhirnya terjebak dalam menyontek karya orang lain atau plagiator yang dilarang bagi peneliti muda atau para mahasiswa karena akan dapat merugikan diri yang bersangkutan untuk mencegah hal tersebut diatas, perlu bagi peneliti muda untuk latihan membuat karya ilmiah atau secara intensif bertanya pada pembimbing yang telah disediakan oleh lembaga pendidikan yang ada.

 

  1. E.              MENGORGANISASI SUBTANSI KAJIAN PUSTAKA

setelah informasi yang berhubungan dengan permasalahan peneliti diperoleh secara komprehensip dan lengkap dengan pencatatan sumber informasi sesuai dengan aturan tata tulis yang ditetapkan, langkah berikutnya yang perluh diperhatikan oleh para peneliti adalah mengorganisasi materi yang diperoleh secara sistematis sebagaii macam acuan selama melakukan kegiatan penelitian. Untuk memberikan sekedar rambu-rambu cara mengorganisasi data yang berasal dari bermacam-macam sumber, berikut ini diberikan beberapa langkah untuk dapat diaplikasikan sesuai dengan keadaan yang ada (Ary, dkk.,1985).

  1. Mulai dengan materi hasil penelitian yang secara sekuensi diperhatikan dar yang paling relevan, relevan, dan cukup relevan. Cara lain dapat juga, misalnya dengan melihat tahun penelitian diawali dari yang paling mutahir dan berangsur-angsur mundur ketahun-tahun yang lebih lama.
  2. Membaca abstrak dari setiap penelitian lebih dahulu untuk memberikan penilaian apakah permasalahan yang dibahas sesuai dengan yang hendak diipecahkan dalam penelitian.
  3. Mencatat bagian-bagian penting dan relevan dengan permasalahan penelitian. Untuk menjaga agar tidak terjebak dalam unsure plagiat, para peneliti hendaknya juga mencatat sumber-sumber informasi dan mencantumkannya dalam daftar pustaka, jika memang informasi berasal dari idea tau hasil penelitian orang lain.
  4. Buatlah catatan, kutipan, atau salinan informasi dan susunan secara sistematis sehingga peneliti dengan mudah dapat mencari kembali jika sewaktu-waktu diperlukan. Sangat dianjurkan dalam hal ini bagi para peneliti, agar membuat kutipan dalam system kartu berukuran 7,5 x 10 cm atau yang sudah disediakan dalam took-tokobuku dan alat tulis umumnya. Kedua muka kartu secara bolak-balik dapat digunakan. Muka pertama untuk substansi kutipan, sedangkan muka sebaliknya sebagai catatan sumber kutipan. Contoh kutipan dalam kartu informasi dapat dilihat pada gambar 3.1 dan 3.2.
  5. Atur kartu-kartu tersebut menurut abjak atau catalog yang telah dibuat sesuai dengan interes peneliti, agar mudah dalam mencari bila sewaktu-waktu diperlukan.
  6. Tulis juga pada muka kartu sebaliknya, dari mana sumber tersebut diambil secara lengkap dan teliti.

 

 

 

 Ketenagakerjaan

Sector pertanian on-farm selain menjadi penyedia bahan pangan sampai  sekarang masih menjadi andalan penyerapan tenaga kerja. Dari 88,8 juta total tenaga kerja, 38,37 (43,21 persen) bekerja disektor pertanian. Meskipun demikian ternyata produktivitas tenaga kerja sector pertanian tidak bekerja optimal , hanya 60 persen saja dibandingkan tenaga kerja sector nonpertanian.

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 substansi informasi

 

Mengkaji corporate farma dengan kepala dingin (harian kompas 14 Agustus 2000 halaman 39)

MCF011

 

 

 

 

 

Gambar 3.2 sumber informasi

 

  1. Agar mudah mencari dan mengatur kartu-kartu yang dibuat, peneliti hendaknya membuat salah satu substansi kutipan untuk setiap kartu.
  2. Yakinkan bahwa setiap acuan tersebut dikutip secara langsung, diringkas atau diuraikan dengan menggunakan bahasa sendiri. Hal demikian perlu dilakukan agar peneliti terhindar dari plagiator (penjiplak).

Menurut Sumadi S. 2003, cara pencatatan informasi pada umumnya mengikuti salah satu dari dua system, yaitu:

  1. System kartu

System kertu menggunakan  kertas gambar berukuran kartu pos. keuntungan system kartu ialah kartu-kartu itu mudah diatur, disimpan, dan dibawah kemana-mana. Kelemahannya, informasi yang dapat direkam pada setiap kartu sangat terbatas.

  1. System lembaran atau system kuarto.

System lembaran (kuarto) menggunakan kertas (sering kali juga HVS) ukuran kuarto. Keuntungannya ialah masing-masing lembar dapat memuat informasi yang jauh lebih banyak. Kelemahannya, mengatur, menyimpan dan membawahnya lebih sukar. Namun dengan tersedianya alat pelubang (perforator) dan map yang sesuai dengan ukuran kuarto ditoko-toko alat tulis dewasa ini, kelemahan system lembaran (kuarto) itu dapat diatas. Dewasa ini, dengan tersedianya computer, perekaman hasil bacaan itu dalam computer mungkin merupakan pilihan yang tepat.

 

Dari informasi-informasi yang telah terkumpul sebagai hasil kegiatan membaca itulah peneliti melakukan penelaahan lebih lanjut terhadap masalah yang digarapnya. Dengan dedukasi dia berusaha melakukan pemerincian atau pengkhususan, dengan deduksi dia melakukan pemaduan dan pembuatan generalisasi-generalisasi, dan akhirnya meramu kesemua bahan itu dalam suatu system yang berupa kesimpulan-kesimpulan teoretis, yang akan menjadi landasan bagi penyusun hipotesis. Didalam kesiimpulan-kesimpulan teoritis itu peneliti harus mengidentifikasi hal-hal atau factor-faktor utama yang akan digarap dalam penelitiannya. Factor-faktor inilah yang akan menjadi variable-variabel yang akan digarap dalam penelitiannya. Penemuan ini penting, karena disitulah letak mutu system pemikiran teoritis si peneliti. Penyatuan hasil-hasil bacaan secara kronologis dan kompilatif saja tidak cukup. Hasil-hasil itu harus diramu berdasrkan suatu garis pemikiran yang konsisten. Garis pemikiran inilah yang melandasi kesimpulan-kesimpulan teoritis yang menjadi dasar hipotesis penelitian.

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan literatur-literatur yang ada mengenai penelaahan pustaka, maka kesimpulan yang diperoleh dari bahasan tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam proses penelaahan pustaka yaitu:
    1. Peranan studi kepustakaan.
    2. Macam-macam sumber informasi.
    3. Isi studi kepustakaan.
    4. Jumlah reverensi yang diperlukan.
    5. Mengorganisasikan substansi kajian pustaka.
    6. Macam-macam sumber informasi
      1. Jurnal penelitian
      2. Laporan hasil penelitian
      3. Abstrak
      4. Narasumber

–         Para professional

–         Para ahli

  1. Buku
  2. Surat kabar dan majalah

–         Apakah (what)

–         Siapakah (who)

–         Bagaimanakah (how)

–         Kapan (when)

–         Mengapa (why)

  1. Internet

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brata, Surya, Sumadi.  2003. Metodologi Penelitian UGM. Jakarta: Universitas Gajah Mada.

Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan “pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. 2003. Metodologi Penelitian Kompetensi dan Praktiknya. Yogyakarta: Bumi Aksara.

Purwanto, E. 2008. Metode Penelitian Remaja. http://metodekir.blogspot.com [20 Desember 2009].

Ary, D., Jacob, L.C. and Razavieh, A. 1985. Introduction to research in education. 3 edition. New York: holt, Rinehart and Winston

 

 

 

By sukahitung Posted in Tugas

BAB II SKRIPSIKU “PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA YANG DIAJAR MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE NHT DAN TIPE JIGSAW

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

  1. A.  Kajian Pustaka
  2. 1.    Hakikat Matematika

Untuk mendefinisikan matematika sangatlah sulit, definisi matematika makin lama makin sukar untuk dibuat secara tepat dan singkat. Cabang-cabang matematika makin lama makin bertambah satu sama lainnya. Sampai sekarang ini, para ahli matematika belum ada kesepakatan yang bulat untuk membuat definisi tentang matematika. Namun demikian para ahli berusaha memberikan gambaran tentang hakikat matematika.

Kline (Abdurrahman, 2009: 252) mengemukakan bahwa matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif.

Lerner (Abdurrahman, 2009: 252) mengemukakan bahwa matematika disamping sebagai bahasa simbolis juga merupakan bahasa universal yang memungkinkan manusia memikirkan, mencatat, dan mengkomunikasikan ide mengenai elemen dan kuantitas.

Selanjutnya Paling (Abdurrahman, 2009: 252) mengemukakan bahwa matematika adalah suatu cara untuk menemukan jawaban terhadap masalah yang dihadapi manusia, suatu cara menggunakan informasi, menggunakan pengetahuan tentang bentuk dan ukuran, menggunakan pengetahuan tentang menghitung, dan yang paling penting adalah memikirkan dalam diri manusia itu sendiri dalam melihat dan menggunakan hubungan-hubungan.

Dari berbagai pendapat tentang hakikat matematika yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa secara kontemporer pandangan tentang hakikat matematika lebih ditekankan pada metodenya daripada pokok persoalan tentang matematika itu sendiri.

  1. 2.    Pengertian Belajar Matematika

Belajar merupakan suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri individu yang belajar. Oxford Advanced Learner’s dictionary (Suyono dan Haryanto, 2011: 12) mendefinisikan belajar sebagai kegiatan memperoleh pengetahuan atau keterampilan melalui studi, pengalaman, atau karena diajar.

Adapun Divesta dan Thompson (Suyono dan Haryanto, 2011: 12-13) menyatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman.

Selain itu, Slameto (2010: 2) dalam bukunya, mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar dan relatif tetap dan terjadi sebagai hasil dari pengalaman atau latihan-latihan, yang dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah dalam hidupnya.

Berkaitan dengan pelajaran matematika, Dienes (Junaidi, 2011) mengemukakan bahwa belajar matematika melibatkan suatu struktur hirarki dari konsep-konsep tingkat lebih tinggi yang dibentuk atas dasar apa yang telah terbentuk sebelumnya.  Belajar matematika pada konsep yang lebih tinggi tidak mungkin bila prasyarat yang mendahului konsep-konsep itu belum dipelajari.

Dengan demikian, untuk dapat menguasai materi pelajaran matematika pada tingkat kesukaran yang lebih tinggi diperlukan penguasaan materi tertentu sebagai pengetahuan prasyarat.  Penguasaan yang tinggi akan dapat dimiliki siswa dalam mempelajari matematika bila guru tidak hanya menuntut siswanya untuk menghafal rumus saja, tetapi lebih penting adalah memberikan pemahaman yang penuh terhadap konsep-konsep yang disampaikan. Selain itu, belajar matematika akan lebih berhasil bila mengarah pada pengembangan berfikir, pengembangan konsep atau ide-ide terdahulu yang dipersiapkan untuk mempelajari dan menguasai konsep baru.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar matematika adalah proses dalam diri siswa yang hasilnya berupa perubahan pengetahuan, sikap, keterampilan untuk menerapkan konsep-konsep, struktur, dan pola dalam matematika sehingga menjadikan siswa berfikir logis, kreatif, dan sistematis dalam kehidupan sehari-hari.

  1. 3.    Hasil Belajar Matematika

Abdurrahman (2009: 37) dalam bukunya, mengatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.

Menurut Benjamin S. Bloom (Abdurrahman, 2009: 38) ada tiga ranah (domain) hasil belajar, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Kemudian menurut A. J. Romiszowski (Abdurrahman, 2009: 38) hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam dua macam saja, yaitu pengetahuan dan keterampilan.

Pengetahuan terdiri dari empat kategori, yaitu:

  1. Pengetahuan tentang fakta;
  2. Pengetahuan tentang prosedural;
  3. Pengetahuan tentang konsep;
  4. Pengetahuan tentang prinsip.

Keterampilan juga terdiri dari empat kategori, yaitu:

  1. Keterampilan untuk berpikir atau keterampilan kognitif;
  2. Keterampilan untuk bertindak atau keterampilan motorik;
  3. Keterampilan bereaksi atau bersikap;
  4. Keterampilan berinteraksi.

Adapun menurut Gagne dalam Suprijono (Tonra, 2012: 9) hasil belajar berupa:

  1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.
  2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
  3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitif sendiri.
  4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerakan jasmani.
  5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, dan jika dikaitkan dengan belajar matematika, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika adalah tingkat keberhasilan siswa dalam hal penguasaan pelajaran matematika setelah mengikuti proses pembelajaran dan dilihat dengan skor hasil belajar matematika siswa setelah melalui pemberian tes sebagai alat ukur hasil belajar matematika.

  1. 4.    Model Pembelajaran Kooperatif

a)    Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Artz dan Newman (Huda, 2011: 32) mendefinisikan pembelajaran kooperatif sebagai siswa yang bekerja sama dalam satu tim untuk mengatasi suatu masalah, menyelesaikan sebuah tugas, atau mencapai tujuan bersama.

Adapun menurut Eggan dan Kauchak (Trianto, 2011: 42) pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.

Di dalam kelas kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen kemampuan, jenis kelamin, suku/ras, dan satu sama lain saling membantu.

Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok serta memberikan kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa yang berbeda latar belakangnya. Dengan bekerja secara kolaboratif untuk mencapai sebuah tujuan bersama, maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan dengan sesama manusia.

Pembelajaran kooperatif melatih siswa menemukan dan memahami konsep-konsep yang dianggap sulit dengan cara bertukar pikiran (berdiskusi) dengan teman-temannya. Diskusi merupakan salah satu metode yang dapat mengaktifkan siswa dan memungkinkan siswa menguasai konsep atau memecahkan suatu masalah melalui suatu proses yang memberi kesempatan berfikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dengan membentuk kelompok-kelompok yang heterogen, bekerja secara kolaboratif, berdiskusi satu sama lainnya untuk mencapai tujuan bersama.

b)   Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif

Menurut Arends (Trianto, 2011: 47) ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:

1)   Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajar;

2)   Kelompok dibentuk dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang, dan rendah;

3)   Bila memungkinkan, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang beragam;

4)   Penghargaan lebih berorientasi kepada kelompok daripada individu.

c)    Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Menurut Trianto (2011: 48) dalam bukunya, terdapat enam langkah utama atau tahapan dalam pembelajaran kooperatif. Langkah-langkah itu ditunjukkan pada tabel berikut ini:

 

Tabel 2.1. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif

Fase Tingkah Laku Guru
Fase – 1Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar. 
Fase – 2Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. 
Fase – 3Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif Guru menjelaskan kepada siswa cara membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok belajar agar melakukan transisi secara efisien.
Fase – 4Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase – 5Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase – 6Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok. 

(Sumber: Trianto, 2011: 48)

  1. 5.    Pembelajaran Kooperatif  TipeNumbered Heads Together

Numbered Heads Together atau penomoran berpikir bersama merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional.

Numbered Heads Together pertama kali dikembangkan oleh Spencer Kagen (1993) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu materi pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut.

Adapun langkah-langkah model kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT),yaitu:

a)   Penomoran

Dalam fase ini guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1 sampai 5.

b)   Mengajukan Pertanyaan

Guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya.

c)    Berpikir Bersama

Siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.

d)   Menjawab

Guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Tabel 2.2. Kelebihan dan Kekurangan Model Kooperatif Tipe NHT

No. Kelebihan Kekurangan
1. Setiap siswa menjadi siap semua; Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru;
2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh; Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
3. Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai;
4. Tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok. 

Sumber: Febiyanto (2011)

  1. 6.    Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe Jigsaw

Jigsaw telah dikembangkan dan diujicoba oleh Elliot Aronson dan teman-teman di Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Trianto, 2011: 56).

Kooperatif tipe Jigsaw ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada kelompoknya. Dengan demikian siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerjasama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Ratumanan, 2004:142).

Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal (kelompok induk) dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.

Hubungan antara kelompok asal dan kelompok ahli digambarkan sebagai berikut:

Kelompok Asal

Kelompok Ahli

Gambar 2.2 Ilustrasi Kelompok JigsawSumber: Arends (Nilamurni, 2012: 26)

Adapun langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw menurut Trianto (2011: 56) dalama bukunya, yaitu:

  1. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang).
  2. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
  3. Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
  4. Anggota dari kelompok lain (kelompok asal) yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli (expert group) untuk mendiskusikannya.
  5. Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
  6. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.

Tabel 2.3. Kelebihan dan Kekurangan Model Kooperatif Tipe Jigsaw

No. Kelebihan Kekurangan
1. Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain; Membutuhkan waktu yang lama; 
2. Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan; Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandai juga merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya.
3. Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam kelompoknya;
4. Dalam proses belajar mengajar siswa saling ketergantungan positif;
5. Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain.

Sumber: Ilham (2012)

  1. 7.    Materi Ajar (Aritmetika Sosial)

a)    Menghitung Nilai Keseluruhan, Nilai Per Unit, dan Jumlah (banyaknya Unit)

Seorang pemilik toko menjual satu kotak karet penghapus dengan harga Rp.8.400,-Ternyata, dalam satu kotak terdapat 12 buah karet penghapus. Seseorang membeli sebuah karet penghapus dan pemilik toko menjualnya dengan harga Rp.700,-. Dalam hal ini, harga satu kotak karet penghapus Rp.8.400,- disebut nilai keseluruhan, sedangkan harga satu buah karet penghapus Rp700,00 disebut nilai per unit. Maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

Nilai per-unit adalah harga satuan dari suatu produk

Nilai sebagian adalah harga antara nilai satuan dengan nilai keseluruhan

Nilai Keseluruhan adalah harga semua produk

b)   Harga pembelian, harga penjualan, Untung, dan Rugi

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat peristiwa jual-beli suatu barang. Pada kegiatan jual beli tersebut terdapat harga pembelian, harga penjualan, untung atau rugi. Untuk memahaminya, perhatikan permasalahan berikut:

Suherman membeli sepeda motor dengan harga Rp.7.500.000,- Sebulan kemudian sepeda motor tersebut dijual dengan harga Rp.8.300.000,-. Dalam hal ini, Suherman mengalami untung Rp.800.000,-. Jika Suherman hanya mampu menjual dengan harga Rp.7.300.000,- dikatakan Suherman mengalami rugi Rp.200.000,-. Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan:

Laba = harga penjualan – harga pembelian

Harga beli adalah harga barang dari pabrik, grosir, atau tempat lainnya. Harga beli sering disebut modal. Dalam situasi tertentu, modal adalah harga beli ditambah dengan ongkos atau biaya lainnya. Sedangkan Harga jual adalah harga barang yang ditetapkan oleh pedagang kepada pembeli. Untung atau labaadalah selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian jika harga penjualan lebih dari harga pembelian.

Rugi = harga pembelian – harga penjualan

Rugiadalah selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian jika harga penjualan kurang dari harga pembelian.

  1. Persentase untung dan rugi

Untuk memahami materi ini siswa diharapkan memperhatikan uraian sebelumnya. Dari uraian  terdahulu, diketahui jika laba atau untung adalah selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian, sedangkan rugi adalah selisih antara harga penjualan dengan harga pembelian jika harga penjualan kurang dari harga pembelian. Dengan demikian persentase laba dan rugi dirumuskan sebagai berikut.

Dari rumus di atas diperoleh hubungan sebagai berikut:

  1. Jika mendapat untung, maka

Harga beli =

  1. Jika menderita rugi, maka

Harga beli =

c)    Diskon dan Rabat

Diskon adalah potongan harga suatu barang. Adapun rabat adalah potongan harga yang diberikan jika membeli barang-barang dalam jumlah banyak, misalnya Ibu Ana membeli satu lusin buku tulis.

d)   Bruto, Tara, dan Neto

Istilah bruto, tara, dan neto sering digunakan pada permasalahan berat barang. Untuk memahaminya, perhatikan dalam kehidupan sehari-hari saat membeli makanan kecil atau saat ibu membeli gula pasir. Berat barang yang kalian beli merupakan berat kotor, artinya berat makanan kecil ditambah berat kemasannya. Berat kemasan barang seperti plastik, karung, kertas disebut tara. Berat barang beserta kemasannya disebut berat kotor atau bruto, sedangkan berat barangnya saja disebut berat bersih atau neto. Dengan demikian dapat disimpulkan sebagai berikut.

Jika diketahui persen tara dan bruto, maka tara dapat dicari dengan rumus berikut.

Untuk menentukan harga bersih setelah memperoleh potongan berat (tara) dapat dirumuskan sebagai berikut:

Contoh:

Sebuah karung beras ditimbang, ternyata beratnya 50,25 kg, artinya berat karung + berat beras = 50,25 kg.

Jika berat karung 0,25 kg maka berat beras saja (neto)

= 50,25 kg – 0,25 kg

= 50 kg.

Secara matematis dapat dikatakan:

Berat kotor (bruto) = 50,25 kg,

Berat bungkus (tara) = 0,25 kg,

Berat bersih (neto) = 50,00 kg.

  1. B.  Kerangka Pikir

Mengingat peranan matematika sangat penting, tentunya memberikan konsekuensi pada peningkatan kualitas mata pelajaran matematika di sekolah-sekolah. Hasil belajar siswa tidak hanya dipengaruhi oleh penguasaan materi tetapi juga dipengaruhi oleh metode pengajaran yang tepat. Dalam mengajarkan matematika guru harus terampil memilih model pembelajaran yang tepat sesuai dengan pokok bahasan yang diajarkan.

Dengan demikian, pemilihan model pembelajaran matematika yang cocok untuk topik tertentu, akan membantu proses belajar mengajar matematika berjalan efektif dan efisien serta memberikan pengaruh positif bagi hasil belajar matematika siswa.

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model ini menjelaskan bahwa siswa dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen terdiri dari 3-5 orang, yang kemudian masing-masing anggota dalam kelompok diberikan nomor. Model ini menjelaskan bahwa siswa dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen terdiri dari 3 sampai 5 orang, yang kemudian masing-masing anggota dalam kelompok diberikan nomor. Dalam mengerjakan soal kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk mengetahui dan mengerti jawaban soal yang dikerjakan secara berkelompok, karena semua nomor dalam kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk maju ke depan kelas mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Dalam penerapan model ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 5-6 anggota yang heterogen. Kemudian guru memberikan bahan ajar dalam bentuk teks kepada setiap kelompok dan setiap siswa dalam satu kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari satu bagian materi. Setelah itu, masing-masing siswa dari kelompok yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (antar ahli), saling membantu satu dengan yang lainnya untuk mempelajari topik yang ditugaskan. Dan pada akhirnya, setiap siswa kembali ke kelompok asal untuk memberikan dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka bahas pada kelompok ahli.

  1. C.  Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:

“Ada perbedaan peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe Numbered Heads Together dan tipe Jigsaw pada siswa kelas VII MTsN 2 Makassar”.

Secara statistika, hipotesis ini dirumuskan sebagai berikut:

Ho ; μ1 = μ2   versus  H1 ; μ1 ≠ μ2

Keterangan:

μ1: Parameter rata-rata peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe Numbered Heads Together.
μ2: Parameter rata-rata peningkatan hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui model kooperatif tipe Jigsaw.

 

 

 

 

 

By sukahitung Posted in Rumus